Tiga Hari Dalam Sunyi: Kisah Seorang Nenek dan Kuasa Tuhan

Dari Meja Editorial

DI TANAH Sumatera Barat dan Utara yang dilanda banjir paling buruk dalam ingatan manusia, air bah mengalir seperti serpihan duka yang tak berkesudahan.

Rumah-rumah hanyut, tangisan bercampur dengan suara langit yang gelap,
dan di tengah hiruk-pikuk penyelamatan yang tak pernah berhenti—
terdapat satu jiwa tua yang terdiam, yang tidak terlihat, yang luput dari pandangan dunia.

Nenek itu… seorang diri.
Hidup sebatang kara, berteman sepi lebih lama daripada berteman manusia.
Ketika semua orang berlari mencari perlindungan, dia hanya mampu duduk, menggigil, memeluk dirinya sendiri seperti memeluk sisa-sisa kekuatan yang masih tertinggal dalam tubuh renta.

Para petugas dan relawan berlari ke sana-sini, menjangkau tangan-tangan yang muncul dari air bah, mengangkat anak kecil, mendukung warga yang hampir tenggelam.

Namun nenek itu tidak terlihat – seolah-olah bencana telah menelannya ke dalam bayang-bayang.

Dalam kesunyian yang begitu kejam, dia berada di antara dingin yang mematikan dan lumpur yang menyedut, tanpa suara, tanpa panggilan, tanpa siapa pun mengetahui keberadaannya.

Malam turun seperti tirai hitam yang tebal, dan angin membawa bau air yang bercampur dengan ketakutan, namun nenek itu tetap bertahan di tempatnya,
seakan waktu tidak lagi peduli.

Tetapi Tuhan…
Tuhan punya cara yang sering tidak kita pahami.
Dia menahan denyut kehidupan dalam tubuh lemah itu, seolah ingin menunjukkan kepada dunia bahawa kuasa-Nya lebih halus daripada air bah,
lebih kuat daripada deras sungai yang menghanyutkan segala.

Siapa yang menyangka seorang nenek, rapuh dan sendirian, mampu menahan tiga hari penuh?
Jika bukan kerana kekuatan dari Penciptanya, dari mana lagi datangnya tenaga untuk sekadar bernafas di tengah musibah sebesar itu?

Dalam tiga hari yang panjang seperti tiga tahun, nenek itu berlawan dengan lapar yang mencengkam, haus yang membakar kerongkong, dan sepi yang seolah ingin memakan kesedaran.

Air berlumpur menyentuh pinggangnya, dingin meresap ke tulang paling dalam, namun ia bertahan – bukan kerana tubuhnya kuat, tetapi kerana hatinya masih memilih hidup, walau dunia seakan telah melupakannya.

Ketika akhirnya seseorang menemukannya – tubuhnya basah, matanya sayu, bibirnya pecah, namun sinar kecil masih tinggal di sudut wajahnya.

Sinar yang berkata:
“Aku bertahan… kerana Tuhan tidak pergi.”

Dan pada saat itu,
air mata bukan hanya milik nenek itu seorang, tetapi milik semua yang mendengarnya – yang akhirnya mengerti bahawa dalam bencana sebesar apa pun, ada kisah kecil yang menggetarkan hati, kisah tentang seorang nenek yang luput dari pandangan manusia, namun tidak pernah luput dari pandangan langit. – ND

Telegram: https://t.me/nasionaldaily

Facebook: https://www.facebook.com/nasionaldaily

TikTok: https://www.tiktok.com/@nasionaldaily?_t=8kyR2clR7Mv&_r=1

Iklan: admin@nasionaldaily.com / sales@nasionaldaily.com / 012-9222001

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *